Setiap ibu pasti ingin buah hatinya lahir sehat dan tumbuh optimal. Selama masa kehamilan, berbagai kebiasaan kecil seperti menjaga pola makan, rutin bergerak, hingga memenuhi kebutuhan nutrisi ternyata berperan penting dalam mendukung perkembangan janin. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup sehat selama hamil berkaitan dengan kemungkinan lebih rendahnya berbagai gangguan perkembangan, termasuk gangguan spektrum autisme (ASD).

Namun perlu diingat, autisme adalah kondisi perkembangan saraf yang dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk genetik dan lingkungan. Jadi, tidak ada satu kebiasaan pun yang bisa menjamin bayi terbebas dari autisme. Meski begitu, menerapkan pola hidup sehat tetap menjadi langkah positif yang bisa Bunda lakukan.

Apa Itu Autisme pada Bayi?

Autisme atau ASD adalah kondisi perkembangan saraf yang memengaruhi cara otak berkembang dan bekerja. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan anak dalam berkomunikasi, berinteraksi sosial, memahami lingkungan, serta menunjukkan perilaku tertentu. Autisme disebut sebagai spektrum karena setiap anak bisa mengalami tanda dan tingkat dukungan yang berbeda. Ada anak yang menunjukkan tanda sejak usia sangat dini, sementara pada anak lain tanda-tandanya baru terlihat ketika tuntutan komunikasi dan sosial semakin meningkat.

Menurut CDC, autisme bukanlah penyakit yang menular atau akibat pola asuh orang tua, melainkan kondisi perkembangan yang berkaitan dengan perbedaan pada perkembangan otak.

Tanda-Tanda Autisme yang Bisa Terlihat pada Bayi

Setiap bayi tumbuh dengan kecepatan berbeda, tetapi beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Perbedaan dalam respons sosial: bayi lebih jarang melakukan kontak mata, kurang merespons ketika namanya dipanggil, tampak kurang tertarik berinteraksi, atau lebih sedikit tersenyum balik.
  • Perbedaan dalam komunikasi: keterlambatan babbling (ocehan), lebih sedikit menggunakan suara atau gestur, tidak banyak menunjuk atau menunjukkan sesuatu.
  • Perilaku atau respons yang berulang: gerakan berulang, sangat menyukai rutinitas tertentu, atau memiliki respons berbeda terhadap suara, cahaya, atau sentuhan.

Namun, satu tanda saja tidak selalu berarti bayi mengalami autisme. Penilaian perlu dilakukan oleh tenaga profesional.

Kebiasaan Saat Hamil yang Bisa Mendukung Perkembangan Otak Janin

Berikut beberapa kebiasaan yang bisa Bunda terapkan:

1. Memenuhi Kebutuhan Asam Folat

Asam folat tidak hanya penting untuk mencegah cacat tabung saraf, tetapi juga berperan dalam pembentukan dan perkembangan sistem saraf janin. Kebutuhan asam folat untuk ibu hamil sekitar 400 mikrogram per hari, namun bisa berbeda tergantung kondisi kesehatan. Penelitian dalam Journal of the American Medical Association (JAMA) menemukan hubungan antara konsumsi suplemen asam folat sebelum dan selama awal kehamilan dengan penurunan risiko beberapa gangguan perkembangan saraf pada anak. Asam folat bisa didapat dari sayuran hijau, kacang-kacangan, buah tertentu, dan suplemen sesuai anjuran dokter.

2. Rutin Bergerak dan Olahraga Ringan

Kehamilan bukan berarti harus terus berbaring. Aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki, senam hamil, atau yoga prenatal (jika diizinkan dokter) dapat membantu menjaga kesehatan ibu dan janin. Olahraga selama kehamilan dikaitkan dengan sirkulasi darah lebih baik, kontrol berat badan, dan kesehatan metabolik ibu yang turut memengaruhi perkembangan otak anak.

3. Menjaga Pola Makan Seimbang

Nutrisi selama kehamilan menjadi 'bahan bakar' bagi perkembangan otak bayi. Bunda perlu memperhatikan asupan protein, omega-3, zat besi, serta vitamin dan mineral. Beberapa studi mengamati bahwa pola makan ibu yang lebih sehat selama kehamilan berkaitan dengan perkembangan saraf anak yang lebih baik.

4. Menghindari Rokok dan Alkohol

Paparan zat berbahaya selama kehamilan dapat memengaruhi perkembangan janin. Rokok, alkohol, dan zat berbahaya lainnya diketahui dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kehamilan dan perkembangan bayi.

5. Mengelola Stres Selama Hamil

Kehamilan membawa banyak perubahan fisik dan emosional. Stres berat yang berlangsung lama menjadi faktor yang terus diteliti terkait perkembangan janin. Bunda bisa mencoba tidur cukup, melakukan aktivitas yang menyenangkan, serta mendapat dukungan dari pasangan dan keluarga.

Benarkah Bisa Mengurangi Risiko Autisme?

Beberapa penelitian observasional menemukan hubungan antara kombinasi gaya hidup sehat ibu hamil dengan penurunan risiko gangguan perkembangan tertentu. Sebuah umbrella review yang melibatkan 101 studi dengan lebih dari 3 juta partisipan menemukan bahwa konsumsi asam folat selama kehamilan dikaitkan dengan penurunan risiko ASD sekitar 30 persen. Sementara konsumsi multivitamin prenatal dikaitkan dengan penurunan risiko sekitar 34 persen.

Namun, autisme terjadi karena kombinasi banyak faktor, termasuk genetik, kondisi biologis, dan lingkungan selama perkembangan janin. Jadi, kabar tentang penurunan risiko tersebut memiliki dasar penelitian, tetapi perlu dipahami sebagai bagian dari upaya pencegahan menyeluruh, bukan jaminan mutlak.

Yang terpenting, Bunda tetap bisa melakukan langkah-langkah sederhana ini untuk mendukung kesehatan diri dan si Kecil. Konsultasikan selalu dengan dokter atau bidan untuk mendapatkan saran yang sesuai dengan kondisi Bunda.

Reporter: Sania Putri